Tertawa adalah bagian dari kehidupan manusia. Ia menjadi tanda kegembiraan, mencairkan suasana, menghilangkan ketegangan, bahkan dapat mempererat hubungan antarmanusia. Dalam kehidupan sosial, termasuk di tengah masyarakat Jakarta yang dinamis dan penuh tekanan, humor dan tawa sering kali menjadi cara sederhana untuk menjaga keakraban.
Namun, sebagai seorang muslim, kita perlu menyadari bahwa tidak semua yang menyenangkan selalu baik apabila dilakukan tanpa batas. Dalam Islam, persoalannya bukan apakah tertawa itu boleh atau tidak, melainkan bagaimana kita menempatkan tawa secara proporsional. Ada saatnya kita tersenyum, ada saatnya tertawa, tetapi ada pula saatnya kita harus diam, merenung, dan menjaga hati.
Tulisan yang menjadi bahan renungan ini mengingatkan tentang bahaya terlalu banyak tertawa. Di dalamnya disebutkan sejumlah akibat bagi seseorang yang berlebihan dalam tertawa, mulai dari matinya hati, hilangnya cahaya dan kewibawaan wajah, hingga terbukanya aib pada hari kiamat.
Pesan tersebut menurut saya sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini.
Kita hidup dalam zaman ketika tertawa tidak lagi terbatas pada ruang pergaulan. Melalui media sosial, seseorang dapat tertawa, membuat orang lain tertawa, bahkan menjadikan kehidupan orang lain sebagai bahan lelucon hanya dalam hitungan detik. Konten humor berkembang sangat cepat. Video pendek, meme, komentar, potongan percakapan, dan berbagai bentuk hiburan digital membuat budaya tertawa menjadi bagian dari keseharian.
Persoalannya muncul ketika kita kehilangan kemampuan membedakan antara humor yang sehat dan humor yang merendahkan martabat manusia.
Tidak sedikit candaan hari ini dibangun di atas penghinaan terhadap fisik, kemiskinan, kekurangan seseorang, keluarga, profesi, bahkan agama dan kelompok tertentu. Orang yang menjadi objek lelucon mungkin terluka, tetapi kita justru merasa berhasil karena mendapatkan banyak tawa dan perhatian.
Di sinilah agama mengajarkan kedewasaan.
Tawa semestinya tidak dibangun di atas penderitaan orang lain.
Sebagai ulama yang berkhidmat di tengah masyarakat Jakarta yang majemuk, saya melihat bahwa kemampuan menjaga lisan dan perilaku merupakan bagian penting dari merawat kehidupan bersama. Masyarakat kota memiliki latar belakang yang sangat beragam. Perbedaan suku, budaya, keyakinan, tingkat pendidikan, profesi, dan kondisi ekonomi adalah kenyataan yang tidak mungkin dihindari.
Karena itu, humor yang tidak terkendali dapat menjadi persoalan sosial. Apa yang bagi seseorang dianggap sekadar bercanda, bagi orang lain dapat menjadi penghinaan. Apa yang dianggap lucu oleh satu kelompok, dapat dirasakan menyakitkan oleh kelompok yang lain.
Islam mengajarkan agar seorang muslim memiliki kepekaan terhadap perasaan orang lain. Rasulullah SAW dikenal sebagai pribadi yang ramah dan mampu membuat orang di sekitarnya merasa nyaman. Beliau tersenyum dan bercanda, tetapi canda beliau tidak menjadikan kebohongan, penghinaan, atau pelecehan sebagai sarana mendapatkan tawa.
Ini penting untuk kita renungkan.
Jangan sampai kita mengukur keberhasilan komunikasi hanya dari seberapa banyak orang tertawa. Ukuran yang lebih penting adalah apakah setelah percakapan itu orang lain merasa dihargai atau justru direndahkan.
Lebih jauh lagi, peringatan tentang banyak tertawa sebenarnya dapat kita pahami sebagai ajakan untuk menjaga kehidupan hati. Dalam bahan tulisan tersebut, akibat pertama yang disebutkan adalah “mati mata hatinya.”
Hati yang hidup adalah hati yang peka. Ia mampu merasakan kesalahan, menyesali dosa, tersentuh ketika mendengar ayat Al-Qur’an, bersyukur ketika menerima nikmat, dan prihatin ketika melihat penderitaan sesama.
Sebaliknya, hati yang kehilangan kepekaan akan membuat seseorang mudah menertawakan sesuatu yang seharusnya mengundang keprihatinan.
Kita tentu tidak sedang diajarkan untuk menjadi masyarakat yang muram dan tidak boleh tertawa. Islam bukan agama yang mengajarkan kehidupan tanpa kegembiraan. Yang perlu kita bangun adalah keseimbangan. Tertawa boleh, tetapi jangan kehilangan rasa malu. Bercanda boleh, tetapi jangan kehilangan adab. Bergembira boleh, tetapi jangan sampai hati kehilangan kesadaran kepada Allah.
Dalam kehidupan sehari-hari, terutama di tengah derasnya arus informasi, kita perlu memiliki “rem” dalam diri. Sebelum membagikan sebuah video lucu, misalnya, tanyakan: apakah ada orang yang dipermalukan di dalamnya? Sebelum membuat candaan tentang seseorang, tanyakan: apakah dia akan merasa dihargai jika mendengarnya? Sebelum tertawa atas sebuah kejadian, tanyakan: apakah sesuatu yang sedang kita tertawakan sebenarnya merupakan musibah bagi orang lain?
Pertanyaan sederhana semacam ini adalah bentuk akhlak.
Hal lain yang patut menjadi perhatian adalah kecenderungan manusia untuk menggunakan humor sebagai pelarian dari persoalan kehidupan. Kita tertawa agar tidak berpikir. Kita bercanda agar tidak perlu membicarakan masalah yang serius. Kita memenuhi ruang digital dengan hiburan agar tidak sempat bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana hubungan kita dengan Allah?
Padahal, seorang mukmin membutuhkan ruang untuk merenung.
Ada waktunya hati perlu tertawa, tetapi ada pula waktunya hati perlu menangis. Ada saatnya kita berbicara, tetapi ada saatnya diam menjadi ibadah. Ada waktunya berkumpul dan bergembira, tetapi ada waktunya menyendiri untuk bermuhasabah.
Bagi saya, inti dari pesan tentang bahaya banyak tertawa bukanlah larangan untuk bergembira. Intinya adalah ajakan agar manusia tidak kehilangan keseimbangan dan kepekaan hati.
Jakarta membutuhkan masyarakat yang mampu tersenyum, tetapi juga mampu berempati. Kita membutuhkan generasi yang kreatif membuat humor, tetapi tetap memiliki batas moral. Kita membutuhkan ruang publik yang penuh kegembiraan, tetapi tidak dibangun dengan penghinaan dan kebencian.
Pada akhirnya, kualitas seorang muslim tidak terlihat dari seberapa sering ia tertawa, tetapi dari apa yang dilakukan hatinya setelah tertawa. Apakah tawa itu membuat kita semakin dekat kepada sesama dan semakin bersyukur kepada Allah, atau justru membuat kita lupa diri?
Mari kita menjaga tawa sebagaimana kita menjaga lisan. Sebab setiap kata, setiap candaan, bahkan setiap sikap yang kita anggap sederhana, pada akhirnya merupakan bagian dari perjalanan kita mempertanggungjawabkan kehidupan di hadapan Allah SWT.
Tertawalah dengan wajar, bergembiralah dengan syukur, dan jangan pernah membiarkan tawa mematikan hati.










