Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota metropolitan seperti Jakarta, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat menunaikan ibadah salat. Masjid adalah ruang perjumpaan spiritual, tempat pembinaan umat, pusat pendidikan akhlak, sekaligus wadah memperkuat persaudaraan dan merawat harmoni sosial. Karena itu, memuliakan masjid sesungguhnya merupakan bagian dari memuliakan syiar Islam itu sendiri.
Sayangnya, di tengah semakin banyaknya pembangunan fisik masjid yang megah dan representatif, kesadaran tentang adab memasuki dan berada di dalam masjid terkadang justru semakin berkurang. Tidak sedikit orang yang datang ke masjid tanpa memperhatikan etika yang diajarkan Rasulullah SAW. Padahal, Islam mengajarkan bahwa kemuliaan sebuah ibadah bukan hanya ditentukan oleh niat dan pelaksanaannya, tetapi juga oleh adab yang mengiringinya.
Dalam sebuah nasihat yang dinisbatkan kepada Rasulullah SAW, disebutkan adanya beberapa perilaku yang semestinya diperhatikan oleh setiap orang yang hendak memasuki masjid. Di antaranya adalah memeriksa kebersihan alas kaki, mendahulukan kaki kanan ketika masuk, membaca doa masuk masjid, mengucapkan salam, memperbarui syahadat, tidak melewati orang yang sedang salat, menghindari percakapan duniawi yang tidak perlu, memanfaatkan waktu di masjid untuk beribadah, menjaga kesucian dengan berwudhu, dan membaca doa ketika keluar dari masjid.
Apabila dicermati secara mendalam, seluruh adab tersebut mengandung pesan peradaban yang sangat kuat. Islam mendidik umatnya agar memiliki rasa hormat terhadap ruang-ruang suci dan menghadirkan kesadaran bahwa ketika seseorang memasuki masjid, sesungguhnya ia sedang memasuki wilayah yang dipenuhi rahmat dan keberkahan Allah SWT.
Adab pertama yang menarik untuk direnungkan adalah menjaga kebersihan sebelum memasuki masjid. Kebersihan dalam Islam bukan semata persoalan fisik, tetapi juga cerminan kematangan spiritual. Orang yang menghormati rumah Allah akan berusaha memastikan dirinya datang dalam keadaan bersih, rapi, dan pantas. Dalam konteks kehidupan perkotaan, etika ini menjadi sangat relevan karena masjid digunakan oleh banyak orang dengan latar belakang yang beragam. Menjaga kebersihan berarti menjaga kenyamanan bersama.
Adab berikutnya adalah memperbanyak doa dan zikir ketika memasuki masjid. Kebiasaan ini mengingatkan kita bahwa masjid bukanlah ruang biasa. Ia adalah tempat untuk menghadirkan kesadaran ketuhanan di tengah kesibukan dunia. Ketika seseorang melangkahkan kaki ke dalam masjid dan memohon agar dibukakan pintu-pintu rahmat, sesungguhnya ia sedang menata kembali orientasi hidupnya agar tidak semata-mata terjebak dalam urusan duniawi.
Rasulullah SAW juga mengajarkan agar umat Islam tidak mengganggu orang yang sedang melaksanakan salat dan menghindari percakapan yang tidak perlu tentang urusan dunia di dalam masjid. Pesan ini mengandung pelajaran penting tentang penghormatan terhadap kekhusyukan dan hak orang lain untuk beribadah dengan tenang. Dalam kehidupan masyarakat modern, etika semacam ini semakin dibutuhkan. Kita sering menyaksikan masjid menjadi terlalu ramai oleh percakapan yang tidak relevan, suara telepon yang berbunyi keras, atau aktivitas lain yang mengurangi kekhidmatan rumah ibadah.
Masjid seharusnya menjadi ruang yang menghadirkan ketenangan jiwa. Di tempat inilah manusia belajar untuk berhenti sejenak dari berbagai kesibukan dan kontestasi kehidupan, kemudian kembali menyadari hakikat dirinya sebagai hamba Allah. Oleh sebab itu, waktu yang dihabiskan di dalam masjid sebaiknya dipenuhi dengan ibadah, zikir, membaca Al-Qur’an, dan aktivitas yang mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Lebih jauh lagi, adab-adab memasuki masjid sesungguhnya selaras dengan tujuan utama syariat Islam atau maqashid syariah. Ketika seseorang memuliakan masjid, ia sedang menjaga agama karena masjid merupakan pusat peribadatan dan pendidikan keislaman. Ketika masjid menjadi tempat yang aman dan tertib, di sana terdapat upaya menjaga jiwa dan ketenteraman masyarakat. Ketika masjid berfungsi sebagai ruang pendidikan moral dan pembinaan keluarga, maka terpeliharalah keturunan. Ketika masjid menjadi tempat menimba ilmu dan memperkuat kesadaran spiritual, maka akal pun terjaga. Bahkan, ketika masjid mengajarkan disiplin, tanggung jawab, dan etika sosial, pada akhirnya ia juga berkontribusi dalam menjaga harta dan kemaslahatan publik.
Sebagai seorang ulama yang hidup dan berkhidmat di Jakarta, saya memandang bahwa revitalisasi fungsi masjid tidak dapat dilakukan hanya dengan membangun fisiknya yang megah. Yang lebih penting adalah membangun budaya adab di dalamnya. Masyarakat perlu kembali dididik bahwa memakmurkan masjid bukan hanya soal banyaknya jamaah yang hadir, melainkan juga tentang kualitas penghormatan terhadap kesucian dan kemuliaan rumah Allah.
Jakarta membutuhkan masjid yang hidup, ramah, tertib, dan menjadi pusat pembinaan umat. Semua itu dimulai dari hal-hal yang tampak sederhana, yakni bagaimana kita melangkahkan kaki memasuki masjid, bagaimana kita menjaga perilaku di dalamnya, dan bagaimana kita keluar dari masjid dengan hati yang lebih bersih dibanding ketika kita memasukinya.
Memuliakan masjid pada akhirnya adalah upaya memuliakan diri kita sendiri. Sebab, dari masjid yang dijaga adabnya akan lahir pribadi-pribadi yang beriman, berakhlak, serta memiliki kepedulian untuk merawat persaudaraan dan membangun peradaban yang penuh keberkahan.









