• Tentang Masjid
Yusuf Aman MNQ
Masjid Nurul Qibthiyyah
  • Home
  • Profil
    • Tentang Masjid
    • Masjid Tour
  • Kajian Kitab
    • Fiqih
    • Tasawuf
  • Ulama Betawi
  • Pena Ulama
  • Suara Perempuan
  • Pojok Tanya
No Result
View All Result
  • Home
  • Profil
    • Tentang Masjid
    • Masjid Tour
  • Kajian Kitab
    • Fiqih
    • Tasawuf
  • Ulama Betawi
  • Pena Ulama
  • Suara Perempuan
  • Pojok Tanya
No Result
View All Result
Yusuf Aman MNQ
No Result
View All Result
Home Nurul Qibthiyyah Center Kajian Kitab Fiqih

Ketika Shalat Belum Mampu Mencegah Kemungkaran

Admin by Admin
July 14, 2026
in Fiqih, Kajian Kitab, Nurul Qibthiyyah Center, Pena Ulama, Tentang Masjid, Ulama Betawi
0
Ketika Shalat Belum Mampu Mencegah Kemungkaran
0
SHARES
5
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Di tengah meningkatnya semangat masyarakat untuk membangun masjid, memperbanyak majelis taklim, dan menunaikan ibadah secara berjamaah, ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan bersama: mengapa kehidupan sosial kita masih dipenuhi ketidakjujuran, kezaliman, korupsi, kekerasan, dan berbagai bentuk penyimpangan moral?

Pertanyaan ini sesungguhnya bukanlah hal baru. Sejak masa Rasulullah SAW, Islam telah mengajarkan bahwa kualitas salat tidak hanya diukur dari kesempurnaan gerakan dan bacaan, tetapi juga dari pengaruhnya terhadap perilaku seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Al-Qur’an bahkan menegaskan bahwa salat yang benar akan mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar (QS. Al-‘Ankabut: 45).

Dalam khazanah Islam juga dikenal sebuah nasihat yang menyebutkan beberapa golongan manusia yang salatnya tidak diterima secara sempurna di sisi Allah. Terlepas dari pembahasan para ulama mengenai kualitas riwayat tersebut, pesan moral yang terkandung di dalamnya sangat relevan untuk menjadi bahan introspeksi.

Pesan pertama adalah pentingnya menjaga kesempurnaan salat itu sendiri. Membaca Surah Al-Fatihah sebagai rukun salat mengingatkan bahwa ibadah harus dilaksanakan sesuai tuntunan syariat. Semangat beribadah tidak cukup hanya dengan niat baik, tetapi juga harus dibangun di atas ilmu yang benar.

Pesan berikutnya adalah hubungan erat antara ibadah ritual dan tanggung jawab sosial. Dalam nasihat tersebut disebutkan bahwa orang yang enggan menunaikan zakat termasuk dalam kelompok yang diperingatkan. Ini memberikan pelajaran bahwa Islam tidak mengenal dikotomi antara ibadah kepada Allah dan kepedulian terhadap sesama. Salat membangun hubungan vertikal dengan Sang Pencipta, sementara zakat menyempurnakan hubungan horizontal dengan masyarakat.

Di Jakarta, kota yang menjadi pusat aktivitas ekonomi nasional, pesan ini terasa semakin penting. Tidak sedikit orang yang terlihat rajin beribadah, namun masih menutup mata terhadap kesenjangan sosial di sekitarnya. Padahal, keberagamaan yang sehat semestinya melahirkan kepedulian kepada fakir miskin, anak yatim, kaum dhuafa, serta mereka yang membutuhkan uluran tangan.

Nasihat tersebut juga mengingatkan tentang pentingnya integritas seorang pemimpin. Disebutkan bahwa pemimpin yang zalim termasuk orang yang mendapat peringatan keras. Ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moral yang dipikulnya.

Kezaliman tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan. Ia dapat muncul melalui penyalahgunaan wewenang, ketidakadilan dalam mengambil keputusan, pengabaian hak masyarakat, bahkan sikap yang lebih mementingkan kepentingan pribadi dibandingkan amanah yang diemban.

Sebagai bangsa yang terus memperkuat tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik, pesan ini sangat relevan. Jabatan bukanlah simbol kehormatan semata, melainkan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Nasihat itu juga menyinggung bahaya harta yang diperoleh melalui jalan yang diharamkan, seperti riba dan berbagai bentuk penghasilan yang tidak halal. Hal ini mengajarkan bahwa ibadah tidak dapat dipisahkan dari etika ekonomi. Tidak cukup seseorang rajin salat jika penghasilannya diperoleh melalui cara-cara yang merugikan orang lain atau melanggar ketentuan agama.

Dalam kehidupan modern, pesan tersebut dapat diperluas menjadi ajakan untuk membangun budaya ekonomi yang berintegritas. Kejujuran dalam berdagang, transparansi dalam bekerja, serta menjauhi korupsi dan manipulasi merupakan bagian dari implementasi nilai-nilai salat.

Ada pula peringatan mengenai seorang imam yang dibenci oleh makmumnya karena perilakunya. Ini bukan sekadar persoalan teknis dalam mengimami salat, tetapi mengandung makna bahwa seorang pemimpin agama harus mampu menjadi teladan yang dicintai karena akhlaknya, bukan sekadar dihormati karena kedudukannya.

Sebagai ulama yang berkhidmat di Jakarta, saya melihat bahwa masyarakat hari ini membutuhkan lebih banyak keteladanan daripada sekadar ceramah. Umat akan lebih mudah menerima nasihat apabila melihat kesesuaian antara ucapan dan perbuatan. Kredibilitas seorang pemimpin agama dibangun melalui integritas, kesederhanaan, serta kemampuannya merangkul seluruh lapisan masyarakat.

Namun, dari seluruh pesan yang terkandung dalam nasihat tersebut, terdapat satu kalimat yang menurut saya paling layak menjadi bahan renungan bersama, yaitu tentang orang yang salatnya tidak mampu mencegah dirinya dari perbuatan keji dan mungkar.

Kalimat ini sesungguhnya menjadi ukuran keberhasilan ibadah. Salat bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana pendidikan karakter. Orang yang benar-benar menjaga salat akan semakin jujur, semakin rendah hati, semakin santun dalam berbicara, semakin bertanggung jawab terhadap pekerjaannya, serta semakin peduli kepada sesama.

Jika setelah bertahun-tahun mendirikan salat seseorang masih gemar menyebarkan kebencian, memfitnah, melakukan korupsi, berlaku curang, atau menzalimi orang lain, maka yang perlu dievaluasi bukanlah syariat salatnya, melainkan kualitas penghayatan terhadap salat itu sendiri.

Di tengah masyarakat perkotaan yang semakin kompleks, kita memerlukan transformasi cara pandang terhadap ibadah. Salat tidak boleh berhenti sebagai rutinitas harian yang menggugurkan kewajiban. Salat harus menjadi energi moral yang membentuk perilaku individu sekaligus memperbaiki kehidupan sosial.

Masyarakat yang salatnya baik akan melahirkan keluarga yang baik. Keluarga yang baik akan melahirkan lingkungan yang baik. Dari lingkungan yang baik akan tumbuh masyarakat yang damai, adil, dan penuh kepedulian.

Karena itu, marilah kita menjadikan setiap salat sebagai momentum untuk memperbaiki diri. Bukan hanya memperbaiki bacaan, gerakan, dan kekhusyukan, tetapi juga memperbaiki akhlak, kejujuran, kepemimpinan, tanggung jawab sosial, dan kepedulian terhadap sesama. Sebab, hakikat salat yang diterima bukan hanya tampak di atas sajadah, melainkan juga terlihat dalam perilaku kita ketika kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat.

Previous Post

Memuliakan Masjid Dimulai dari Adab Memasukinya

Admin

Admin

Nurul Qibthiyyah Center
Dari Betawi untuk Negeri

Jl. Kramat Sawah VI No. E184.RT 08 / RW 007
Kel. Paseban, Kec. Senen KODYA JAKARTA PUSAT

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kesabaran sebagai Kunci Menghadapi Ujian dan Cobaan

Kesabaran sebagai Kunci Menghadapi Ujian dan Cobaan

October 18, 2024
Nasihat Sayyidina Umar RA: Tentang Tawa Berlebihan dan Mengabaikan Sesama

Nasihat Sayyidina Umar RA: Tentang Tawa Berlebihan dan Mengabaikan Sesama

September 28, 2024
Sekda DKI Resmikan Masjid Nurul Qibthiyyah, Marullah: ‘Mudah-mudahan Masjid Ini Menjadi Mercusuar di Paseban’

Sekda DKI Resmikan Masjid Nurul Qibthiyyah, Marullah: ‘Mudah-mudahan Masjid Ini Menjadi Mercusuar di Paseban’

August 20, 2022
JAMALUDIN AL AFGHANI DAN PAN ISLAMISME

JAMALUDIN AL AFGHANI DAN PAN ISLAMISME

August 15, 2024
Sekda DKI Resmikan Masjid Nurul Qibthiyyah, Marullah: ‘Mudah-mudahan Masjid Ini Menjadi Mercusuar di Paseban’

Sekda DKI Resmikan Masjid Nurul Qibthiyyah, Marullah: ‘Mudah-mudahan Masjid Ini Menjadi Mercusuar di Paseban’

0
JAMALUDIN AL AFGHANI DAN PAN ISLAMISME

JAMALUDIN AL AFGHANI DAN PAN ISLAMISME

0
Hak-Hak Perempuan dalam Islam dan Wasiat Wajibah bagi Non-Muslim dalam Hukum Waris di Indonesia

Hak-Hak Perempuan dalam Islam dan Wasiat Wajibah bagi Non-Muslim dalam Hukum Waris di Indonesia

0
Nasihat Sayyidina Umar RA: Tentang Tawa Berlebihan dan Mengabaikan Sesama

Nasihat Sayyidina Umar RA: Tentang Tawa Berlebihan dan Mengabaikan Sesama

0
Ketika Shalat Belum Mampu Mencegah Kemungkaran

Ketika Shalat Belum Mampu Mencegah Kemungkaran

July 14, 2026
Memuliakan Masjid Dimulai dari Adab Memasukinya

Memuliakan Masjid Dimulai dari Adab Memasukinya

July 13, 2026
8 MACAM YANG TIDAK MERASA KENYANG DARI 8 MACAM LAINNYA

8 MACAM YANG TIDAK MERASA KENYANG DARI 8 MACAM LAINNYA

December 20, 2024
Kesabaran sebagai Kunci Menghadapi Ujian dan Cobaan

Kesabaran sebagai Kunci Menghadapi Ujian dan Cobaan

October 18, 2024

Recent News

Ketika Shalat Belum Mampu Mencegah Kemungkaran

Ketika Shalat Belum Mampu Mencegah Kemungkaran

July 14, 2026
Memuliakan Masjid Dimulai dari Adab Memasukinya

Memuliakan Masjid Dimulai dari Adab Memasukinya

July 13, 2026
8 MACAM YANG TIDAK MERASA KENYANG DARI 8 MACAM LAINNYA

8 MACAM YANG TIDAK MERASA KENYANG DARI 8 MACAM LAINNYA

December 20, 2024
Kesabaran sebagai Kunci Menghadapi Ujian dan Cobaan

Kesabaran sebagai Kunci Menghadapi Ujian dan Cobaan

October 18, 2024
Yusuf Aman MNQ

© Nurul Qibthiyyah Center | Dari Betawi untuk Negeri. Support by Jasa Web Bekasi

  • Kajian Kitab
  • Ulama Betawi
  • Pena Ulama
  • Pojok Tanya

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Profil
    • Tentang Masjid
    • Masjid Tour
  • Kajian Kitab
    • Fiqih
    • Tasawuf
  • Ulama Betawi
  • Pena Ulama
  • Suara Perempuan
  • Pojok Tanya